Lensagayo.id | Aceh Tengah - Di balik aromanya Kopi Gayo Wine yang kini menembus pasar ekspor, ada kisah jatuh bangun seorang pemuda Aceh Tengah bernama Sukran. Perjalanannya tidak instan. Ia pernah berada di titik terendah, mengurungkan diri, bahkan kebencian tak terarah muncul tiba-tiba.
Kisah Sukran menjadi potret nyata bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan pintu masuk menuju keberhasilan.
Jauh sebelum dikenal sebagai pengusaha kopi, Sukran adalah sosok aktivis yang diperhitungkan. Pada tahun 2013, ia menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Aceh Tengah.
Nama Sukran melambung saat ia memimpin aksi besar-besaran menuntut Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menurunkan alat berat untuk memperbaiki jalan rusak. Bersama rekan-rekannya, ia bahkan memblokade jalan hingga tuntutan itu dipenuhi. Aksi tersebut membuahkan hasil dan membuat namanya dikenal luas oleh masyarakat.
Jiwa kepemimpinannya itu membawanya mencoba peruntungan di dunia politik. Ia berniat mencalonkan diri sebagai anggota Dewan di Aceh Tengah.
Dengan keterbatasan biaya, ia sempat ragu. Namun dukungan dari pejabat yang ia kenal, sahabat, hingga keluarga menguatkannya. Ia pun maju dengan prinsip "Coba Saja Tanpa Uang".
Takdir berkata lain. Sukran gagal terpilih.
Keputusan itu memukul mentalnya sangat dalam. Ia kecewa, menarik diri dari pergaulan, menjauhi rekan-rekan seperjuangan. Di dalam dirinya hanya ada rasa kecewa yang tak berarah.
Perekonomiannya ikut terpuruk. Kondisinya begitu sulit hingga untuk membeli sesuatu yang termurah sekalipun ia tak mampu.
Sukran sendiri merupakan anak dari seorang pedagang sayur di pasar tradisional. Dari latar belakang itulah secercah harapan itu muncul kembali.
Di tengah keterpurukan, ia pergi ke pasar, memandangi aktivitas di sana, berpikir apa yang bisa dijadikan uang untuk bertahan hidup.
Ia pun bercerita kepada ibunya. Sang ibu menyarankan untuk mencoba jual beli tomat, usaha yang menurut ibunya hampir tidak butuh modal, selain kepercayaan.
Berbekal kepercayaan petani, Sukran mengambil tomat dari kebun petani dengan sistem konsinyasi. Barang diambil dulu, uang dibayarkan setelah tomat laku terjual di pasar. Perlahan, ekonominya mulai membaik.
Namun ia tidak berhenti di situ. Sambil berdagang, ia melakukan riset kecil-kecilan. Ia mengamati komoditas apa yang paling laku dan siapa pemain besar di baliknya.
Jawabannya mengarah pada satu komoditas: KOPI.
Ia bertanya pada dirinya sendiri, siapa orang terkaya di Aceh Tengah saat ini? Setelah ia telusuri, ada lima orang terkaya di daerah itu, dan kelimanya adalah pengusaha kopi, atau akrab disebut TOKE KOPI di Aceh Tengah.
Sejak itu, tekadnya bulat. Ia mendatangi salah satu dari lima toke kopi tersebut. Ia tidak langsung berbisnis, melainkan belajar. Bertanya, mengamati, dan menyerap ilmu pengolahan dan perdagangan kopi.
Keberanian besar pun ia ambil. Ia menggadaikan rumah orang tuanya ke bank. Uang hasil gadai itu tidak ia gunakan untuk keperluan konsumtif, melainkan untuk membeli satu unit mobil pick-up sebagai modal operasional usaha kopinya.
Dengan komitmen kuat, mau belajar, dan kerja cekatan, proses itu ia jalani bertahap.
Kini, kerja keras itu terbayar lunas. Sukran telah menjelma menjadi salah satu pengusaha Kopi Gayo Wine ternama di Aceh Tengah. Kopinya tidak hanya beredar di pasar lokal, tetapi telah diekspor hingga ke luar negeri.
Di bawah naungannya, kini sudah ada lima tim yang bekerja membantu mengembangkan usaha tersebut.
Saat ditanya kunci suksesnya, ia hanya tersenyum dan berpesan:
"Jadilah pengusaha kopi, maka anda akan terancam kaya."
Sebuah kalimat sederhana yang lahir dari pengalaman panjang tentang kegagalan, keberanian mengambil risiko, dan ketekunan.
Pelajaran: Kisah Sukran membuktikan, untuk menjadi pengusaha tidak selalu harus dimulai dengan modal besar, melainkan dengan kepercayaan, kemauan belajar, dan keberanian untuk bangkit setelah gagal.

