Lensagayo.id | Aceh Tengah - Intensitas kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terbawa angin dari wilayah regional terpantau semakin pekat dan meluas hingga menyelimuti wilayah Kabupaten Aceh Tengah pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Berdasarkan pantauan visual, kabut berwarna keputihan kekuningan mulai menyelimuti kawasan Kota Takengon dan sekitarnya sejak pagi hari. Jarak pandang di beberapa titik dilaporkan menurun, terutama di kawasan dataran tinggi dan jalur lintas kabupaten.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas udara. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dirilis pada Rabu (14/10) mencatat angka di Aceh Tengah menembus 177, yang masuk dalam kategori tidak sehat. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara dapat merugikan kesehatan bagi kelompok sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak pada masyarakat umum jika terpapar dalam durasi lama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkonfirmasi adanya sebaran asap karhutla yang terdeteksi melalui pantauan satelit di wilayah Provinsi Aceh. BMKG menyebut, pergerakan asap dipengaruhi oleh pola angin monsun yang membawa partikel asap dari titik panas (hotspot) di wilayah regional Sumatera bagian utara menuju wilayah tengah Aceh.
"Asap ini bersifat transboundary. Kecepatan angin dan kondisi atmosfer yang stabil membuat partikel bertahan lebih lama di udara," ujar prakirawan BMKG dalam keterangannya yang dikutip dari kanal informasi resmi.
Menanggapi kondisi tersebut, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Dinas Kesehatan Aceh Tengah dan BPBD Kabupaten Aceh Tengah meminta warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi dan sore hari saat konsentrasi polutan cenderung lebih tinggi.
Masyarakat juga diimbau untuk mengenakan masker pelindung, khususnya masker jenis N95 atau KN95, saat beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dinilai efektif untuk menyaring partikel halus PM2.5 yang menjadi komponen utama kabut asap karhutla.
Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan penderita penyakit pernapasan seperti asma dan ISPA, diimbau untuk tetap berada di dalam ruangan dengan sirkulasi udara yang baik. Pemerintah juga menyarankan untuk memperbanyak konsumsi air putih dan menjaga daya tahan tubuh.
"Jika mengalami gejala sesak napas, batuk berkepanjangan, iritasi mata, atau pusing, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan tunda penanganan medis," kata petugas Dinas Kesehatan Aceh Tengah saat dihubungi terpisah.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada penetapan status darurat kabut asap di Aceh Tengah. Pemerintah daerah masih terus berkoordinasi dengan BMKG dan KLHK untuk melakukan pemantauan kualitas udara secara real-time. Upaya pemadaman karhutla di wilayah sumber api juga dilaporkan masih terus berlangsung dengan melibatkan tim gabungan.
BMKG juga memperingatkan potensi dampak risiko kesehatan yang lebih luas jika kondisi ini berlangsung dalam beberapa hari ke depan tanpa adanya hujan yang signifikan. Hujan dinilai menjadi faktor alami yang paling efektif untuk membersihkan partikel polutan di udara.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah berharap masyarakat tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan Dinas Kesehatan. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan terbuka yang dapat memperparah kondisi kabut asap.
Pihak berwenang memastikan akan terus memberikan pembaruan informasi mengenai perkembangan kualitas udara dan langkah-langkah mitigasi yang perlu dilakukan warga.

