Pasokan Ayam Potong ke Takengon Terbatas, Pedagang Sebut Permintaan Tinggi -->

Header Menu


Pasokan Ayam Potong ke Takengon Terbatas, Pedagang Sebut Permintaan Tinggi

Hidayat sabirun
Kamis, 27 Agustus 2026


Metrogayo.com | Aceh Tengah – Ayam broiler atau ayam ras pedaging sedang sulit ditemukan di Pasar Bawah Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, dari pantauan di pasar, tidak terlihat ayam Potong (Broiler) di lapak pedagang, Kamis (27/8/2026)


Beberapa pedagang yang biasanya menjual ayam potong putih hanya memiliki ayam merah dan ayam kampung. Sementara pembeli yang datang mencari ayam potong harus menerima kenyataan bahwa barang tersebut sedang tidak tersedia.


Kondisi itu bukan hanya terjadi hari ini. Menurut pedagang, pasokan ayam potong sudah mulai terbatas dalam beberapa hari terakhir.


Deni, salah seorang pedagang ayam di Pasar Bawah Takengon, mengatakan biasanya ayam potong datang secara rutin. Namun belakangan, kedatangannya tidak lagi seperti sebelumnya.


“Hari ini ayam broiler memang kosong sama sekali. Beberapa hari ini juga sudah terbatas. Biasanya tiap hari ada, sekarang bisa beberapa hari sekali baru masuk,” kata Deni saat ditemui di lapaknya.


Bagi pedagang, perubahan pola pasokan tersebut cukup terasa. Mereka tidak bisa memastikan setiap hari akan mendapatkan jumlah ayam yang sama seperti sebelumnya.


“Kami di sini hanya menerima barang. Kalau dari sananya tidak datang, ya kami juga tidak bisa jual,” ujar Deni.


Meski stok kosong, pembeli ayam potong tetap datang ke pasar.


Ada pembeli yang membutuhkan ayam untuk konsumsi rumah tangga. Ada pula yang membeli untuk kebutuhan usaha makanan.


Ketika ayam broiler tidak tersedia, sebagian pembeli memilih ayam jenis lain yang masih ada di lapak. Namun, tidak semua kebutuhan bisa digantikan.


“Yang ada sekarang ayam merah sama ayam kampung. Pembeli yang cari ayam potong putih banyak, Tapi tidak ada barangnya,” kata Deni.


Menurut dia, kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Pembeli tetap membutuhkan barang, sementara pedagang sendiri tidak memiliki stok untuk dijual.


Bagi pedagang yang mengandalkan penjualan ayam setiap hari, keadaan seperti ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas jual beli.


Deni menjelaskan, ayam broiler yang dijual di Takengon didatangkan dari luar daerah. Pedagang pasar menerima ayam dari pemasok sebelum menjualnya kembali kepada konsumen.


Karena itu, ketika pasokan dari luar tidak datang, stok di pasar dengan cepat ikut berkurang.


“Kami hanya menerima barang. Kalau pasokan tidak masuk, ya kosong,” katanya.


Ia mengatakan beberapa hari terakhir kondisi tersebut mulai terasa. Ayam yang sebelumnya dapat diperoleh secara rutin kini tidak selalu tersedia.


Situasi ini membuat pedagang harus menunggu kedatangan pasokan berikutnya.


Di tengah pasokan yang terbatas, Deni juga merasakan adanya peningkatan permintaan ayam.


Namun, ia tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan permintaan tersebut meningkat.


“Saya tidak tahu pasti penyebabnya. Tapi yang kami rasakan, permintaan memang lagi tinggi,” ujarnya.


Di kalangan pedagang, kondisi tersebut kemudian memunculkan berbagai pembicaraan. Ada yang mengaitkan tingginya permintaan dengan kebutuhan ayam dalam jumlah besar untuk kegiatan atau program tertentu.


Salah satu yang disebut adalah program pemerintah terkait pemenuhan gizi, termasuk Makan Bergizi Gratis atau MBG.


Namun Deni tidak ingin memastikan informasi tersebut sebagai penyebab kosongnya ayam potong di pasar.


Menurut dia, informasi mengenai kaitan tersebut hanya didengar dari pembicaraan antar-pedagang dan bukan berasal dari pihak yang terlibat langsung dalam program.


“Itu hanya yang kami dengar-dengar saja. Saya sendiri tidak berani memastikan benar atau tidak. Karena kami tidak dapat informasi langsung,” katanya.


Sikap tersebut penting karena pedagang hanya melihat apa yang terjadi di lapangan. Mereka mengetahui barang yang masuk dan barang yang tidak masuk, tetapi tidak mengetahui secara pasti bagaimana distribusi ayam dari pemasok di luar daerah.


Menurut Deni, kondisi yang terjadi bukan berarti ayam potong sama sekali tidak tersedia di daerah lain.


Persoalannya lebih kepada pasokan yang masuk ke Takengon.


Ayam tetap dibutuhkan masyarakat, sementara jumlah yang tersedia di pasar sedang terbatas.


“Kalau ada barang, pasti kami jual. Masalahnya sekarang barangnya yang susah,” ujarnya.


Ia berharap kondisi tersebut tidak berlangsung terlalu lama. Sebab pedagang membutuhkan kepastian pasokan agar dapat menjalankan aktivitas jual beli seperti biasa.


“Harapan kami barang bisa masuk lagi seperti biasa. Biar kami bisa jualan dan pembeli juga dapat kebutuhan,” kata Deni.


Ia juga melihat pentingnya penguatan produksi ayam di Aceh Tengah. Jika sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari peternak lokal, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah bisa dikurangi.


“Kalau kita bisa produksi sendiri, setidaknya pasokan lebih aman. Tidak gampang kosong seperti ini,” ujarnya.


Kamis pagi itu, suasana jual beli ayam di Pasar bawah Takengon tetap berjalan. Hanya saja, ayam potong (broiler) yang biasanya menjadi salah satu pilihan pembeli tidak terlihat di lapak pedagang.


Ayam merah dan ayam kampung masih tersedia, tetapi keduanya tidak selalu menjadi pilihan bagi pembeli yang memang mencari ayam broiler.


Bagi masyarakat, kondisi tersebut mungkin terlihat sederhana: datang ke pasar dan ayam yang dicari tidak ada.


Bagi pedagang, persoalannya lebih panjang. Mereka harus menunggu barang dari pemasok, sementara pembeli terus datang.


Sampai kapan kondisi ini berlangsung belum diketahui.


Yang dirasakan pedagang saat ini adalah pasokan ayam broiler ke Takengon tidak lagi serutin sebelumnya. Dalam beberapa hari terakhir, barang datang dengan jeda yang lebih panjang dan pada Kamis (27/8/2026), stok di lapak pedagang yang dipantau bahkan kosong.


Sementara soal penyebabnya, termasuk apakah meningkatnya permintaan untuk kebutuhan tertentu ikut memengaruhi pasokan ayam broiler ke pasar, masih menjadi pertanyaan di tengah pedagang.


Deni memilih tidak berspekulasi.


Ia hanya berharap satu hal: pasokan kembali lancar sehingga pedagang bisa berjualan dan masyarakat dapat membeli ayam sesuai kebutuhan.(Hidayatsabirun)